Pengantar Drs. Hery Purwanto, M.Sc.

 

Dosen Fisika FMIPA Universitas Sebelasa Maret (UNS) Surakarta

            Sebagai seorang muslim, wajib beriman kepada kebenaran Al-Qur’an yang diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi manusia.  Al-Quran sebagai petunjuk manusia meskipun mengajak menusia untuk berfikir dan merenungkan tentang alam akan tetapi tidak secara real memberikan pengetahuan yang lebih rinci dan detail tentang bagaimana alam berperilaku mengikuti sunnatullah  sebagaimana disiplin ilmu sains, karena memang bukan kitab sains.

Oleh karena itu konsep pemahaman Matahari Mengelilingi Bumi tidaklah salah. Terlebih lagi konsep pemahaman tersebut berdasarkan keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an yang mutlak sifatnya. Akan tetapi yang menjadi salah manakala keyakinan yang kuat tersebut memunculkan sikap fanatik terhadap persepsinya sendiri tanpa bisa menerima pemahaman orang lain dari perspektif yang lain. Meskipun sikap fanatik terhadap agama (Islam) tidak salah dan bahkan harus begitu, akan tetapi tidak boleh membuat seseorang terbelenggu dengan perspektifnya sendiri terhadap suatu pemahaman yang sebenarnya dalam hal-hal tertentu dapat dibenarkan dalam perspektif yang lain.

Dalam konteks ini, Matahari mengelilingi Bumi berdasarkan fakta dan realita pengalaman manusia sehari-hari dimana saat pagi hari matahari terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat saat senja hari. Ini adalah bukti ilmiah fisika terhadap fenomena alam menurut pengamatan semua orang yang ada di bumi. Menurut perspektif yang lain, dengan adanya perkembangan teknologi pesawat luar angkasa yang mampu menembus atmosfir bumi, meskipun menempuh jarak yang lebih jauh sekalipun, sudahlah cukup menjadi bukti ilmiah pula baik secara rasional maupun empiris. Dari sinilah sebenarnya dapat dimengerti bahwa konsep pemahaman bahwa Bumi mengelilingi Matahari pun tidaklah salah, menurut perspektif orang yang meng-angkasa ke luar atmosfer Bumi. Dari paling tidak dua perspektif ini, keduanya adalah benar secara rasional maupun empiris, tanpa perlu dipermasalahkan dan dipersoalkan karena keduanya memang benar menurut masing-masing perspektif tersebut.

            Dalam memandang paradigma berfikir tentang ilmu, terdapat konsep rasionalisme yang memandang ilmu pengetahuan bebas asas dan netral, apa adanya berdasarkan fakta ilmiah yang terungkap di balik kejadian, dengan mengabaikan bagaimana dan untuk apa ilmu pengetahuan tersebut digunakan. Sedangkan secara aksiomologi lebih banyak memberikan paradigma berfikir tentang bagaimana suatu pengetahuan dapat digunakan secara aplikatif sehingga bermanfaat. Dan yang terpenting bagi kita adalah bagaimana penemuan ilmiah secara rasional maupun empiris tersebut dapat diterapkan secara aksiomologi. Teknologi adalah seperti pisau, bisa untuk membunuh atau memasak. Semua tergantung pada orangnya. Di sinilah akhirnya peran agama memberikan pengarahan terhadap ilmu pengetahuan agar menggunakannya menurut nilai-nilai yang positif dan membentuk akhlak yang baik agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi.

            Dengan terbitnya buku ini, munculnya keberanian mental dalam memberikan pandangan terhadap kedua perspektif ini paling tidak dapat memberikan alternatif wacana pada khalayak, untuk kemudian didiskusidan dan direnungkan bersama dalam mencari hakikat yang sebenarnya.

                                                                                                           Surakarta, 17 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s