Pengantar DR. Mu’inudinillah Bashri, M.A.

(Dosen Syari’ah LIPIA Jakarta dan Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta)

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah yang menciptakan alam semesta sebagai tanda keesaanNya, kesempurnaan Ilmu dan kekuasaaNya, dan  menjadikan berfikir sebagai jalan mengimani kebenaran Al-Qur’an, Kami akan perlihatkan kepada mereka ayat ayat Kami dalam ufuq dan dalam diri mereka, sehingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar, apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Maha menyaksikan atas segala sesuatu.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad saw, seluruh keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau yang selalu komitmen dengan ajaran beliau sampai hari kiamat.

Diantara kelebihan Islam terpadunya antara akal dan wahyu, akal dan wahyu, dalam Islam wahyu dan akal dari Allah swt, akal sebagai instrument untuk memahami wahyu dan ayat ayat Allah yang terbentang di alam semesta, akal yang sehat dan benar tidak mungkin bertentangan dengan wahyu yang sharih dan shahih. Hanya saja karena akal manusia tidak lepas dari kebodohan, kelalaian, bahkan hawa nafsu, maka ketika terjadi pertentangan antara wahyu dan apa yang diyakini sebagai akal, selama wahyu tersebut disampaikan dengan sanad yang shahih maka wahyu harus di dahulukan karena kelemahan akal, tapi jika suatu kebenaran yang disaksikan oleh akal sudah menjadi kesepakatan seluruh ilmuwan, maka ditegaskan bahwa akal tidak akan betentangan dengan wahyu. Kalau Al-Qur’an dan Sunnah dalalahnya (ma’nanya) sharih (clear) jelas, lugas harus didahulukan atas akal yang masih teori, sebagaimana kalau akal masih teori yang saling kontradiktif dan wahyu bersifat dzan, pemahaman ayat dan hadits harus di dahulukan atas akal. adapun jika yang ditangkap oleh akal bersifat kesepakatan ilmuwan secara final, sedang pemahaman ma’na ayat dan hadits masih dapat dita’wilkan karena tidak tegas menununjukkan ma’na tertentu, di sini apa yang disepakati oleh seluruh ilmuwan menjadi tafsir ma’na ayat dan hadits.

Pertanyaan apa yang menjadi pusat peredaran jagat raya? bumi (Geosentris) ataukah matahari (Heliosentris)? termasuk masalah yang sangat menarik untuk dijadikan contoh masalah ini, sejak dahulu telah terjadi perdebatan yang sangat panjang sehingga beberapa ilmuwan dihukum mati oleh gereja. Zaman sekarang muncul pula tulisan yang menegaskan bahwa Geosentris menjadi suatu yang qat’i dan ijma’ ulama kemudian dari situ muncul hukum bahwa yang mengimani heliosentris adalah kafir (karena mendustakan ayat) atau fasik karena dengan Al-Qur’an dan sunnah, pertanyaan apakah ayat ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa bumi diam tidak bergerak, dan matahari yang mengelilingi bumi suatu yang qat’i atau hal itu sebagai suatu yang dhahir atau suatu penafsiran? Apakah benar bahwa ulama muslimin telah sepakat secara yakin bahwa bumilah yang menjadi pusat edar? Kalau memang ayat ayat, dan hadits haditsnya telah qat’i dan ijma’nya juga sharih dan pasti, maka tidak mungkin ada kesepakat setelahnya yang berlawanan dengannya. jika ada kesepakatan atas dasar pengamatan dengan panca indra yang tidak diragukan, dan berlawanan dengan sesuatu yang dianggap qat’i sebelumnya, padahal hal tersebut masih sebuah praduga dan penafsiran, maka akan terjadi kerancuan pandangan terhadap Al-Qur’an. Maka para ulama ulum tafsir telah memperingatkan akan bahayanya memaksakan pandangan tertentu sebagai acuan menafsirkan Al-Qur’an, dan tidak boleh mengatakan atas kepastian sesuatu yang disandarkan kepada ayat dan hadits kecuali jika ayat dan hadits tersebut teksnya sharih jelas menunjukkan hal itu dan haditsnya diriwayatkan dengan sanad yang shahih.

Sebelum ada yang pasti dan kesepakatan sharih dari para ulama, semua yang punya kapasitas ilmu memadahi boleh memahami ayat dan hadits dan menafsirkan sesuatu dengan kekuatan ilmunya, walaupun yang selamat dan baik mengikuti dhahirnya ayat dan hadits sampai telah terbukti kepastian hakekat sebuah ilmu yang mendukung penasiran ayat dan hadits atau menguatkan satu diantara penafsirannya.

Buku yang ditulis oleh Al-Akh Ahmad Sabiq bin Abdul Latif yang berjudul ”Matahari Mengelilingi Bumi” dan menegaskan bahwa Heliosentris adalah teori kuffar padahal  Geosentris juga sebagai pandangan gereja pula, kemudian muncul buku yang ditulis oleh Al-Akh Rahmat Abdullah dengan judul ”Teori Absolutivitas: Matahari Mengelilingi Bumi” sebagai usaha mencari titik temu antara dua teori Geosentris dan Heliosentris, merupakan  dialektika ilmiah dengan bahasa ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, dengan tujuan mendudukan permasalahan secara proporsional.

Semoga Allah membalas kebaikan Al-Akh Ahmad Sabiq atas apa yang beliau tulis dalam bukunya  ”Matahari Mengelilingi Bumi, sebuah kepastian berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah serta bantahan terhadap teori Bumi mengelilingi Matahari” sebagai komitmen menyampaikan apa yang diyakininya sebagai suatu kebenaran, dan Al-Akh Rahmat Abdullah atas apa yang beliau tulis dalam bukunya ”Teori Absolutivitas:  Matahari Mengelilingi Bumi, sebuah tanggapan atas teori Heliosentris VS teori Geosentris”, sebagai usaha mengurangi ketegangan dialektika pemikiran, mudah mudahan buku ini bermanfaat bagi pencerahan umat Islam dalam memahami permasalahan  dengan adil seimbang, dan obyektif.

Surakarta, 6 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s